Memanfaatkan Kekayaan Laut Indonesia, Udang Menjadi Komoditas Bernilai Besar

Selasa, 28 Januari 2020 / 17:08 WIB

KONTAN.CO.ID - KENAPA UDANG TERKENAL DI DUNIA?

Udang merupakan makanan laut yang paling sering dikonsumsi oleh seluruh orang di dunia. Ada banyak sekali jenis – jenis udang seperti, udang windu, udang galah, Litopenaeus, udang vanamei dan masih banyak jenis lainnya lagi. Hewan laut ini dapat ditemukan di hampir semua perairan sungai dangkal hingga laut yang dalam dan tentunya setiap kawasan tersebut udang yang ditemukan jenisnya berbeda – beda.

Masyarakat di seluruh dunia menggemari santapan udang juga bukan semata – mata karena rasanya saja tetapi juga banyak khasiat yang dihasilkan oleh udang. Dapat memberikan kesehatan tubuh khususnya kesehatan tulang dan otak, mengurangi resiko terkena penyakit kardiovaskular – penyakit gangguan jantung, dan meringankan kelelahan pada mata. Beberapa manfaat ini membuat tingkat permintaan udang di dunia sangatlah besar.

 

UDANG HASIL INDONESIA DI MATA DUNIA

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) di tingkat internasional, Cina masih menjadi negara nomor satu untuk penghasil udang vaname lalu di posisi kedua adalah Indonesia dan India di posisi ketiga. Tetapi, untuk tingkat pertumbuhan produksinya India masih menduduki peringkat pertama lalu diikuti oleh Indonesia di posisi ke dua. Adanya data tersebut udang merupakan komoditas yang memiliki prospek tinggi.

Dari tahun 2018 saja sudah terlihat bahwa udang merupakan komoditas yang sangat besar di dunia karena volume udang yang dihasilkan di seluruh dunia mencapai sekitar 4 juta ton dan jumlah udang yang diimpor oleh tujuh negara pengimpor udang terbesar seperti China, Amerika Serikat, Uni Eropa dan beberapa negara di Timur Tengah mencapai 2,7 juta ton meningkat sebesar 31% dari tahun sebelumnya. Peningkatan yang sangat signifikan untuk komoditas udang.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan laporan Refleksi 2018 & Outlook 2019 terkait komoditas utama hasil perikanan di Indonesia. Komoditas yang masuk ke dalam laporan tersebut diantaranya adalah rumput laut, udang, cumi-sotong-gurita, tuna, cakalang-tongkol, dan kepiting-rajungan. Posisi pertama untuk volume produksi diduduki oleh rumput laut dengan hasil produknya sebesar 175.640 ton. Untuk komoditas udang menempati di posisi kedua setelah rumput laut untuk volume produksinya yaitu mencapai 162.120 ton. Tetapi, ajaibnya adalah udang menempati posisi pertama untuk nilai ekspor yaitu mencapai USD 1.426,09 atau 46,87% dari nilai total ekspor hasil perikanan Indonesia. Hal ini menunjukkan nilai dari hasil produksi udang sangatlah besar dan menjadi peluang yang besar bagi Indonesia untuk memajukan ekspor udang ke seluruh dunia.

Target pasar yang dituju oleh Indonesia pada posisi pertama diduduki oleh Amerika Serikat yang mengimpor 69,86% udang hasil nelayan di Indonesia, kedua adalah Jepang dengan angka 20,76%, ketiga Uni Eropa 5,09%, keempat ASEAN 2,40% dan yang kelima adalah China 1,89%. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa, pasar untuk hasil perikanan Indonesia khususnya udang diminati oleh seluruh dunia.

 

PELUANG PASAR DUNIA

Di Amerika Serikat kegiatan impor udang meningkat 5,1% di tahun 2018 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi, karena adanya masalah di overstocked atau stok yang berlebihan di tahun itu sehingga berdampak pada harga yang menurun di sana. Jika dirupiahkan untuk udang size 100 pada awal Oktober 2018 sekitar Rp 56.000/kg, sedangkan mengalami penurunan di bulan Desember 2018 menjadi Rp 44.000/kg. Total penjualan tersebut menurun dari USD 6,5 miliar di 2017 menjadi USD 6,2 miliar di 2018. Dapat dikatakan bahwa walaupun harga yang menurun tetapi, permintaan akan udang disana masih terbilang cukup besar karena tingkat volume impor yang justru meningkat. Beberapa negara menjadi supplier utama untuk komoditas udang. Pertama, India yang memegang 36% pangsa pasar. Kedua adalah Indonesia dengan pangsa pasar 19% diikuti oleh Ekuador dengan pangsa pasar 11%. Keempat, Vietnam yang memegang pangsa pasar 8% diikuti oleh Cina dan Thailand dengan pangsar yaitu 7%.

Dengan kedudukan Indonesia di posisi kedua untuk pasar Amerika Serikat, sangat memungkinkan bagi penghasil udang di Indonesia untuk terus meningkatkan produksi mereka karena memiliki peluang yang besar di Amerika Serikat.

Di Uni Eropa masih menjadi negara importir udang terbesar di dunia dengan total impor sebesar 817.000 ton di tahun 2018 atau meningkat kurang lebih 2,4% dari tahun sebelumnya. Negara – negara yang mengalami peningkatan impor adalah Italia dengan total impor mencapai 78.000 ton atau sekitar 12%, Belanda meningkat 11% dengan total impor 86.000 ton dan Denmark meningkat 5% dengan total impor 86.000 ton. Negara yang menjadi supplier diantaranya adalah Ekuador, Argentina, Vietnam, India, Indonesia, Bangladesh dan Greenland.

 

PESAING SUPPLIER UDANG

Menurut Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan bahwa persaingan global sebagai supplier udang sangatlah ketat. Pesaing Indonesia saat ini adalah India yang baru saja membuka lahan tambak udang sebesar 5.000 ha di Gujarat untuk meningkatkan produksinya. Selain itu, India juga sudah melakukan konsinyasi dengan Amerika Serikat. Membuat India memiliki pasar yang “pasti” di negara Paman Sam. Lalu, pesaing kedua adalah Ekuador yang memproduksi udang dengan total 500.000 ton di tahun 2018 dan sudah memiliki pasar yang besar di seluruh dunia.

Dengan adanya pesaing – pesaing tersebut, seharusnya penghasil udang di Indonesia lebih berinovasi untuk meningkatkan penjualan udang mereka secara internasional. Inovasi itu bisa menjadi diversifikasi antara udang Indonesia dengan udang negara lain. Dengan tetap menjaga kualitas hasil produksi udang, Indonesia bisa menjadi negara eksportir udang terbesar di dunia. Pelaku budidayalah yang seharusnya diberikan perhatian oleh pemerintah untuk meningkatkan kinerja mereka agar memproduksi udang yang lebih baik lagi. Selain itu, penghasil udang diberikan kesempatan untuk mengekspor hasil produksi mereka ke negara lain seperti Timur Tengah ataupun Afrika karena menurut data dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) kegiatan impor udang meningkat perlahan sehingga penghasil udang dapat mengeksplorasi pasar baru.